Berikut adalah penjelasan seorang dokter terkait dengan virus corona.
Sumber: https://www.facebook.com/100008660536325/posts/2364047367227258/?app=fbl
Mafia Impuls A 12 Unismuh Makssar
The Man BPH LKIM-PENA Unismuh Makassar
Alumni KKN PPM III Unismuh MakassarSimposium SUIJI di Universitas Hasanuddir
Mafia Impuls A 12 Unismuh Makssar
Mahasiswa Fisika Universitas Muhammadiyah MakassarMore
The Man BPH LKIM-PENA Unismuh Makassar
Dokumentasi ini diambil di depan Menara Iqra Unismuh MakassarMore
Alumni KKN PPM III Unismuh Makassar
Dokumentasi ini diambil pada saat Pelatihan di Kab. BulukumbaMore
Simposium SUIJI di Universitas Hasanuddin
Dokumentasi ini diambil pada saat sesi istirahat Simposium SUIJIMore
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Maret 2020
Selasa, 15 Mei 2018
Hakikat Pendidikan IPA (Sains)
Menurut (Wonorahardjo, 2010) dari sudut bahasa, sains atau Science
(Bahasa Inggris) berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata Scientia yang
berarti pengetahuan tentang, atau tahu tentang; pengetahuan, pengertian, faham
yang benar dan mendalam. Berbeda dengan pendapat Fisher (Nugraha, 2005: 3)
mendefinisikan sains sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan
menggunakan metode-metode yang berdasarkan pada pengamatan dengan penuh
ketelitian.
Sedangkan (James Conant, dalam Samatowa, 2011) mendefinisikan
sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu
sama lain, dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta
berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. Sejalan dengan hal
itu, dapat diketahui bahwa kegiatan sains memungkinkan anak melakukan
eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup
yang ada di sekitarnya. Anak belajar menemukan gejala benda dan gejala
peristiwa dari benda-benda tersebut.
(Iskandar, dalam Bundu, 2006) mengemukakan bahwa sains sebagai
disiplin ilmu disebut produk sains karena isinya merupakan kumpulan hasil
kegiatan empirik dan analitik yang dilakukan para ilmuwan dalam bentuk
fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori sains. Fakta sains fakta adalah pertanyaan dan pernyataan tentang benda yang
benar-benar ada atau peristiwa-peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah
dibuktikan secara objektif. Konsep sains konsep adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta sains yang
saling berhubungan. Konsep adalah kosa kata khusus yang dipelajari siswa. Siswa
diharapkan dapat menjelaskan konsep yang dipelajari, mengenai ilustrasi konsep,
kesamaan suatu konsep, dan mengetahui bahwa penggunaan konsep itu benar atau
salah. Prinsip sains adalah generalisasi tentang hubungan diantara
konsep-konsep sains. Hukum
sains adalah prinsip-prinsip yang sudah diterima
kebenarannya yang meskipun sifatnya tentatif tetapi mempunyai daya uji yang
kuat sehingga dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama. Teori sains sering disebut juga teori ilmiah merupakan kerangka
hubungan yang lebih luas antara fakta, konsep, prinsip, dan hukum, sehingga
merupakan model, atau gambaran yang dibuat para ilmuwan untuk menjelaskan
gejala alam.
Dari berbagai defenisi-defenisi tersebut telah tampak adanya
berbagai gambaran-gambaran penting tentang pembelajaran sains terutama pada
siswa. Kajian diatas dapat diartikan sebagai pemahaman tentang keterkaitan
program dan aplikasi sehingga dapat melibatkan serta mengimbangi kemajuan dari
tehnologi masa kini dengan berbasis pada model pembelajaran yang tepat dalam
meningkatkan pembelajaran dengan melihat dari sisi software yang digunakan dalam media.
Referensi:
Nugraha A. 2005. Pengembangan Pembelajaran Sains pada Anak Usia Dini. Dirjen Dikti
Depdiknas: Jakarta
Bundu, P. 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalamPembelajaran Sains. Depdiknas: Jakarta
Wonorahardjo S. 2010. Dasar-dasar Sains
Menciptakan Masyarakat Sadar Sains. Indeks: Jakarta.
Samatowa U. 2011. Bagaimana
Membelajarkan IPA di SD. Depdiknas: Jakarta
Sabtu, 12 Mei 2018
Definisi Motivasi Belajar
Woolfolk
& Nicolich (dalam Eko, 2012), menyatakan bahwa motivasi pada umumnya
didefinisikan sebagai sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan
tindakan. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai
keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan
belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah
pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu
dapat tercapai. Dalam dunia pendidikan, minat dapat diartikan sebagai
kecenderungan yang timbul apabila individu tertarik terhadap sesuatu yang akan
dipelajari dan bermakna bagi dirinya. Menurut Effendi (dalam Herwin, 2009)
minat merupakan sumber dari usaha yang timbul dari kebutuhan siswa yang menjadi
faktor pendorong dalam melakukan usahanya (belajar).
Guru
berkontribusi dalam menumbuhkan motivasi belajar yang akan berpengaruh pada
prestasi belajar siswa, di 16 negara sedang berkembang, guru memberi kontribusi
terhadap prestasi belajar sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar
18% dan sarana fisik 26%. Di 13 negara industri, kontribusi guru adalah 36%,
manajemen 23%, waktu belajar 22% dan sarana fisik 19%. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Nana Sudjana menunjukkan bahwa 76,6% hasil belajar siswa
dipengaruhi oleh kinerja guru, dengan rincian: kemampuan guru mengajar
memberikan sumbangan 32,43%, penguasaan materi pelajaran memberikan sumbangan
32,38% dan sikap guru terhadap mata pelajaran memberikan sumbangan 8,60 (Dedi
Supriadi dalam Eko, 2012).
Referensi:
Herwin, W.
Yogo. 2009. “Kreativitas dalam Pembelajaran Musik”. Jurnal Cakrawala Pendidikan 1 (2)
Eko, W. Putro
dan Anita, Rinawati. 2012. “Pengaruh Kinerja Guru Terhadap Motivasi Belajar
Siswa”. Jurnal Cakrawala Pendidikan
31 (2): 281-283
Jumat, 11 Mei 2018
Konsep Media Phet Simulations dalam Pembelajaran
Media berasal dari kata “medius” yang artiya tengah, parantara atau pengantar. Media adalah
alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997; dalam Rusman:2011).
Sedangkan menurut (Scram, 1977; dalam Rusman, 2011) media adalah technologi
pembawa pesan yang dimanfaatkan untuk pembelajaran.
Ada beberapa kriteria untuk menialai keefektifan
sebuah media, (Hubbard, 1983; dalam Rusman, 2011) mengusulkan Sembilan kriteria
untuk menilainya. Kriteria pertama adalah biaya. Biaya memang harus dinilai
dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaaan media itu. Kriteria lainnya
adalah ketersediaan fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan
ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk diubah, waktu dan tenaga penyiapan,
pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan danyang terakhir adalah kegunaan.
Menurut Sudjana dan Rivai (Arsyad, 2002) mengemukakan manfaat
media pengajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi
belajar.
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai
tujuan pengajaran.
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak
bosan dan guru tidak kehabisan tenaga.
Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak
hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.
Media
memiliki multimakna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas, AECT (association for education and communication
technology) memaknai media sebagai segala bentuk yang dimafaatkan dalam
proses penyaluran informasi. NEA (national
education association) memaknai media sebagai segala hal yang dapat
dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca dan dibicarakan beserta instrument yang
digunakan untuk kegiatan tersebut. Multimedia pembelajaran interaktif yang
mempergunakan strategi simulasi membawa siswa lansung dihadapkan pada
lingkungan atau situasi yang menuntut perannya atau menuntut siswa untuk
mengambil tindakan.
Menurut (Wester’s Collegiate Dictionary, 2004; dalam Shaharuddin, 2011), simulasi adalah “berpura-pura, untuk memperolehi intipati tanpa
melalui keadaan sebenar”.. Penggunaan simulasi berasaskan multimedia adalah
sebagai salah satu kaedah dalam
pendidikan dan penggunaannya kian meningkat dan popular.
Menurut (Alessi dan Trollip, 2001; dalam Shaharuddin, 2011) simulasi dibahagi kepada dua kumpulan berdasarkan objektif utama pendidikan
yaitu ingin mengajar tentang sesuatu atau untuk mengajar bagaimana membuat sesuatu.
Simulasi bagi mengajar sesuatu dibahagikan pula kepada dua subkategori iaitu Physical
dan Iterative Simulation manakala bagaimana membuat sesuatu juga
dibahagian pada dua sub-kategori iaitu Procedural
dan Situational Simulation.
Ciri-ciri simulasi yang efektif adalah:
1. Belajar
menjadi relatif lebih singkat dibandingkan metode lain,
2. Efektivitas
belajar meningkat bila model atau simulasinya benar-benar mendekati realita,
3. Belajar
menjadi efisien karena targetnya pada kemajuan dan hasil belajar.
Berikut
ini adalah tampilan awal dari media Phet Simulatins dilihat dari segi design
dan artistic media pembelajaran:
Tampilan awal dari media ini dimaksudkan untuk memberikan suat kesan yan mampu menarik perhatian pengguna media ini terutama menarik perhatian siswa yang diselingi dengan tampilan yang menarik dengan berbagai gambar simulasi yang ditampilkan pada background dari media yang disajikan dengan berbagai teks penggunaan media, tentang media Phet Simulations serta panduan penggunaan pada guru dalam mengajarkan suatu materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Disampimng itu, media ini dapat diatur penggunaan bahasa yang ingin dipakai pengguna termasuk bahasa indonesia yang mudah dimengerti leh guru maupun siswa dapat memahaminya.
Berdasarkan
beberapa uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa media Phet simulations adalah salah satu media
pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan pengalaman belajara yang lebih
konkret dengan beerbagai bentuk-bentuk tiruan yang mendekati konsep yang
sebenarnya.
Referensi:
Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran.
PT Raja Grafindo Persada:Jakarta
Rusman. Kurniawan,
D. dan Riyana, C. 2011. Pembelajaran
Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Rajawali Pers: Jakarta.
Shaharuddin Salleh,
S. Zaidatun, T. 2011. “Pembinaan Sistem Pembelajaran Berasaskan Simulasi
Interaktif menerusi Web bagi Kursus Telekomunikasi dan Rangkaian” dalam Jurnal
Teknologi Pendidikan Malaysia 1(1):51
Definisi Kecerdasan dalam Konteks Pendidikan Ekonomi
Intellectual (kecerdasan) adalah bagian diri yang merenung, mencipta memecahkan masalah dan membangun makna. Intellectual ini berhubungan erat dengan aktivitas psikis terutama kerja otak. Belajar intellectual berarti belajar dengan memecahkan masalah dan merenung. bahwa anak
didik harus dilatih untuk mematangkan kemampuan intelektuanya, sebagai warga
belajar yang setiap melakukan kegiatan belajar, harus dapat berkembang
pemikirannya ke arah berpikir objektif dan rasional, tidak emosional. Dalam hal
ini guru memegang peran yang penting dalam mematangkan kemampuan intellectual siswa dan diharapkan guru
dapat mendorong siswa menjadi pemikir yang kritis dan kreatif (Sardiman, 2014).
Intellectual adalah intelektual material berupa pengetahuan, informasi,
intellectual property, dan pengalaman yang dapat digunakan untuk menciptakan
kekayaan. Sedangkan menurut International
Federation of Accountants (1998, dalam Harniek, 2009), istilah intellectual
capital sama dengan intellectual property mengartikan bahwa modal intelektual
sebagai aset berbasis pengetahuan dalam perusahaan yang melekat pada sumber
daya manusia yang menjadi basis kompetensi inti perusahaan yang dapat
mempengaruhi perkembangan daya tahan dan keunggulan perusahaan.
Intelektual sebagai hasil dari proses
transformasi pengetahuan atau pengetahuan itu sendiri, yang ditransformasi ke
dalam aset yang bernilai bagi perusahaan. (Sullivan, 2000, dalam Sangkala,
2006) menyatakan bahwa intellectual capital adalah pengetahuan yang dapat
diubah menjadi profit. Intellectual capital tidak hanya menyangkut pengetahuan
dan keterampilan dari para karyawan, melainkan juga termasuk infrastruktur
perusahaan, relasi dengan pelanggan, sistem informasi, teknologi, kemampuan
berinovasi, dan berkreasi.
Berdasarkan
pendapat dari berbagai ahli diatas, dapat diketahui bahwa intellectual mmerupakan aktivitas seseorang cenderung mengara pada
kerja-kerja otak. Seperti halnya belajar yang membutuhkan pemikiran yang
bertujuan untuk memcahkan masalah dengan objektif serta tetap mengedepankan pikiran positif. Kecerdasan seseorang
juga memiliki taraf yang berbeda-beda dalam segi yang berbeda pula
Referensi:
Sardiman. 2014. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Referensi:
Harniek, Diah. 2009. ”Pengaruh Intellectual Capital terhadap
Market value dan
Financial performance pada Perusahaan Jasa Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.Universitas Airlangga. Surabaya.
Financial performance pada Perusahaan Jasa Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.Universitas Airlangga. Surabaya.
Sangkala . 2006. Intellectual Capital Management: Strategi Baru. Membangun Daya Saing
Perusahaan. Jakarta: YAPENSI
Rabu, 09 Mei 2018
Definisi Bakat (Aptitude) dalam Konteks Pendidikan
Secara substantik teoretis Aptitude dapat
diartikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi
pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan
kemampuannya masing-masing. Bakatyang dimiliki seseorang ini merupakan sebuah
ciri khas yang ada dalam dirinya. Aptitude
sebagai sebuah pendekatan yang berusaha mencari dan menemukan
perlakuan-perlakuan yang cocok dengan perbedaan kemampuan siswa, yaitu
perlakuan secara optimal efektif diterapkan oleh siswa yang berbeda tingkat
kemampuannya.
Secara statistik dan metodologi, Aptitude dimaknai sebagai suatu interaksi statistik yang bersifat
multiplikatif (gabungan) dari sekurang-kurangnya satu variabel manusia (independent) dan satu variable
perlakuan, dalam mempengaruhi satu variabel hasil belajar. Menggambarkan adanya
hubungan timbal balik antara hasil belajar yang diperoleh siswa dengan
pengaturan kondisi pembelajaran. Hal ini berarti bahwa prestasi akademik hasil
belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh kondisi pembelajaran yang
dikembangkan oleh guru di kelas (Arikunto, 2012).
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa
aptitude (bakat) merupakan potensi
diri yang khusus dimiliki oleh individu atau perseorangan yang merupakan
prestasi tersendiri yang mereka miliki. Bakat ini memiliki nilai istimewa bagi
seseorang yang bersangkutan karena tidak semua orang memiliki bakat yang sama
dalam bidang yang sama. Setiap orang memiliki bakat dan potensi yang
berbeda-bede sehingga bakat mampu membawa seseorang kepada ujung keberhasilan.
Referensi:
Referensi:
Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta
Herawati, Oktiana Dwi Putra dkk. 2010. “Pengaruh Pembelajaran Problem Posing Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 6 Palembang”. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 NO.1.
Mengapa Pendidikan Karakter?
Pendidikan merupakan sesuatu yang
mempunyai pengaruh dalam pembentukan jasmani, akal, dan akhlak seseorang sejak
dilahirkan hingga akhir hayatnya. Pengertian pendidikan meliputi semua sarana,
baik disengaja seperti pendidikan di lingkungan keluarga (rumah), dan pendidikan sekolah, atau
yang tidak disengaja seperti pendidikan dari pengaruh lingkungan sosial
kemasyarakatan dalam pergaulan kesehatan yang bersifat alamiah.
Pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sedangkan Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat
istiadat.
Pendidikan karakter (character education) sangat
relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis
tersebut yaitu meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak
dan remaja, kejahatan terhadap teman,
pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan,
pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang
hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, maka dari inilah dapat
diketahui bahwa sangatlah penting
mempelajari tentang pendidikan karakter.
Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi
yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi
juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter
dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life
to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari
seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter
secara optimal). Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yaitu metode
keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman (Haryanto,
2012).
Berdasarkan
kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan
karakter adalah pemberian arahan dengan berbagai macam pengaruh yang sengaja
kita pilih untuk membantu anak, sehingga sedikit demi sedikit sampai kepada
batasan kesempurnaan maksimal yang dapat dicapai. Sebagai individu dalam kehidupan
sosial menjadi lebih sempurna, lebih tepat dan lebih baik bagi masyarakat. Oleh
karena itu, pendidikan dapat juga dikatakan sebagai wujud proses yang dapat
membantu pertumbuhan seluruh unsur kepribadian manusia secara seimbang ke arah
yang positif.
Pendidikan karakter dapat
dihubungkan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran
yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu
dikembangkan dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada penilaian
kognitif, tetapi berkaitan pada interaksi dan pengamalan nyata dalam kehidupan
peserta didik sehari-hari di masyarakat. Pendidikan karakter sendiri bertujuan untuk meningkatkan mutu
penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian
pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan
seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan yang dapat tercapainya tujuan
pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar.
Referensi:
Haryanto. 2012. Pengertian Pendidikan Karakter Konsep dan Impementasinya. (http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidian-karakter.html). Diakses pada tanggal 5 Desember 2013,
Referensi:
Haryanto. 2012. Pengertian Pendidikan Karakter Konsep dan Impementasinya. (http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidian-karakter.html). Diakses pada tanggal 5 Desember 2013,
Minggu, 06 Mei 2018
Prospek ASEAN Community
ASEAN Community merupakan suatu cita-cita dari negara-negara yang
tergabung dalam Organisasi Regional yaitu ASEAN, untuk membentuk suatu
masyarakat yang damai, harmonis, makmur, sejahtera dan terintegrasi di wilayah
ASEAN tersebut. Dasar dari upaya pembentukannya adalah untuk lebih memperkuat,
mempercepat, dan mengimplementasikan kerjasama diantara negara anggota ASEAN.
Adapun ASEAN Community ini mencakup 3
konsep besar yaitu Komunitas bidang politik, keamanan, dan hukum (ASEAN Political Security Community), Kerjasama
dibidang ekonomi. (ASEAN Economic Society),
Kerja sama di bidang ini mencakup Pembangunan Manusia, Kesejahteraan Sosial dan
Perlindungan Sosial, Keadilan Sosial dan Hak-hak, penjaminan Kelestarian
Lingkungan, Pembangunan Identitas ASEAN, serta Pengurangan Kesenjangan
Pembangunan. (ASEAN Socio-cultural
Community). Unsur pendidikan merupakan bagian dari ASEAN Socio-cultural Community.
Kerangka sosial budaya, terdapat
aspek pendidikan yang diharapkan mampu menopang ASEAN Community. Sebelumnya pada tahun 1995, ASEAN memiliki jaringan
pendidikan tinggi, yakni ASEAN University
Network (AUN). AUN sebagai hasil konferensi tingkat tinggi ke-4 ASEAN pada
tahun 1992 silam. Pendirian AUN ini tidak lain adalah untuk mempercepat solidaritas
dan pengembangan identitas regional melalui promosi pengembangan sumber daya
manusia dengan jalan penguatan jaringan yang sudah ada di tingkat universitas
dan institut pendidikan unggulan di kawasan.
Aspek sosial budaya diperlukan untuk
pengembangan rasa kebersamaan dan solidaritas, termasuk didalamnya pengembangan
sumber daya manusia di bidang pendidikan. Harapannya, ketika tingkat SDM
masyarakat ASEAN sudah setara (equal),
akan semakin mempercepat integrasi ekonomi sebagai pilar utama ASEAN Community. Hal ini sesuai dengan
pemikiran Mantan Menko Kesra, Agung Laksono yang mengusulkan tentang
peningkatan kerjasama negara ASEAN di bidang pendidikan. Kerjasama ini untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama siswa dan mahasiswa di
kawasan ASEAN.
ASEAN Community tentunya memberikan pengaruh bagi sektor pendidikan di
Indonesia, khususnya bagi perguruan tinggi di Indonesia. Ide persaingan yang
terjadi sebagai akibat dari pasar bebas ataupun ASEAN single market mengharuskan perguruan tinggi siap menghadapinya.
Kompetisi pada perguruan tinggi tidak lagi hanya diantara perguruan tinggi di
Indonesia, namun sudah meliputi perguruan tinggi di regional ASEAN. Adanya
pasar bebas ini memberi peluang bagi perguruan tinggi asing untuk masuk dan
didirikan di wilayah Indonesia sesuai dengan pasal 90 Undang-undang No 12 tahun
2012 tentang pendidikan tinggi.
Sabtu, 05 Mei 2018
Pendidikan dan Pelatihan dalam Pengembangan SDM
Sumber daya manusia yang ada didalam suatu organisasi
perlu pengembangan sampai pada taraf tertentu sesuai dengan perkembangan
organisasi. Apabila organisasi ingin berkembang seyogyanya diikuti oleh pengembangan
sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia ini dapat dilaksanakan
melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan. Pendidikan dan
pelatihan merupakan upaya untuk pengembangaan SDM, terutama untuk pengembangan
kemampuan intelektual dan kepribadian. Pendidikan pada umumnya berkaitan dengan
mempersiapkan calon tenaga yang digunakan oleh suatu organisasi, sedangkan
pelatihan lebih berkaitan dengan peningkatan kemampuan atau keterampilan.
Pendidikan dan pelatihan ini, langkah awalnya perlu
dilakukan analisis kebutuhan atau need
assessment, yang menyangkut tiga aspek, yaitu: (1) analisis organisasi,
untuk menjawab pertanyaan: "Bagaimana organisasi melakukan pelatihan bagi
pekerjanya", (2) analisis pekerjaan, dengan pertanyaan : " Apa yang
harus diajarkan atau dilatihkan agar pekerja mampu melaksanakan tugas atau
pekerjaannya" dan (3) analisis pribadi, menekankan "Siapa membutuhkan
pendidikan dan pelatihan apa". Hasil analisis ketiga aspek tersebut dapat
memberikan gambaran tingkat kemampuan yang ada di organisasi tersebut.
Kinerja atau performance dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang disingkat "ACHIEVE" yaitu: ability (kemampuan pembawaan), capacity
(kemampuan yang dapat dikembangkan), incentive
(insentif material dan non-material), environment (lingkungan tempat kerja), validity (pedoman, petunjuk dan uraian
kerja) dan evaluation (umpan balik
hasil kerja). Dari beberapa faktor di atas, yang dapat diintervensi dengan
pendidikan dan pelatihan adalah capasity
atau kemampuan pekerja yang dapat dikembangkan, sedangkan faktor lainnya diluar
jangkauan pendidikan dan pelatihan.
Kamis, 03 Mei 2018
Piramida Gifted Children
Tingkat kecerdasan
merupakan salah satu aspek terpenting dalam pendidikan. Kemampuan individu
dapat ditentukan oleh tingkat kecerdasannya, dengan dilihat dari bakat bawaan
(heredititas) dan faktor lingkungan. Pandangan tentang penyeleksian dilihat
dari kemampuan berpikir, kemampuan belajar, dan penyesuaaian diri dengan intelejent questions (IQ) minimal
125-140, emotional questions (EQ), spiritual questions (SQ) di atas
rata-rata. Sehingga dapat dikategorikan sebagai gifted children yang disesuaikan dengan Three-Ring Conceptions menurut Renzulli (1981, 2005)
The Triadich dari Renzulli-Monks merupakan pengembangan dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari
Renzulli. Model Renzulli-Monks ini disebut model multi faktor yang melengkapi
Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Dalam model multi faktornya
Monks mengatakan bahwa potensi kecerdasan istimewa (giftedness) yang
dikemukakan oleh Renzulli tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan
yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan di mana anak tinggal (Monks
dan Ypenburg, 1995).
Gambar: Piramida Gifted Children
Piramida Gifted
children merupakan suatu tahapan dalam pemilihan atau yang dikategorikan
oleh penulis dengan tinjauan tentang kemampuan intelektual diatas rata-rata
maka dapat dikatakan anak cerdas berbakat yang kemudian akan berikan suatu
komitmen untuk mengembangkan kemampuan yang pada akhirnya menghasilkan suatu
produk yakni suatu karya cipta.
Peta Konsep Inkubator Pendidikan dan Teknologi
Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat kepada
kemampuan pelajar yang berdasarkan indikator keberhasilan. Pembelajaran yang
memusatkan kemampuan pelajar dapat diamati dengan menumbuhkan komunitas belajar
dalam bentuk kelompok. Persoalan sekarang ini adalah menciptakan ruang kepada
pelajar untuk menemukan cara yang terbaik dalam mengembangkan kemampuan yang
baik itu kemampuan dalam bidang pendidikan maupun pengembangan teknologi. Dalam
mengatasi persoalan tersebut maka peran inkubator pendidikan dan teknologi yang
berfungsi sebagai ruang dan bertujuan untuk merangsang pelajar untuk lebih giat
mengasah kamampuan anak berbakat.
Strategi penyeleksian adalah salah satu cara yang dilakukan untuk
mendapatkan pelajar-pelajar (individu) yang akan dibina dalam inkubator
ini dengan melihat kriteria yang telah ditentukan. Kemudian, strategi
pelaksanaan adalah tahapan yang dilakukan kepada pelajar setelah melewati
penyeleksian. Adapun peta konsep dari strategi penyeleksian dan pelaksanaan
adalah sebagai berikut:
Peta Konsep Inkubator
Pendidikan dan Teknologi
Bedasar pada peta konsep tersebut, diperlukan sebuah perencanaan
yang matang mulai pada tahap analisa individu sampai penempatan kerja. Strategi
tersebut dapat dijalankan dengan adanya dukungan dari berbagai pihak pemerintah
maupun swasta, peran dan fungsi dari berbagai pihak dapat mendorong serta
menjadi nilai “Gold” pada anak berbagai karena adanya jaminan dalam
keikutsertaan dalam lembaga pendidikan ini. Pihak pemerintah sebagai mediator
dalam lembaga pendidikan ini, pihak swasta dijadikan sebagai stakeholder untuk
penempatan kerja dari luaran lembaga ini.
Pembagunan sumber daya manusia dapat didukung dengan pemenuhan
berbagai indicator dalam pelaksanaan tujuan pendidikan. Hal inilah yang menjadi
cita-cita bersama bangsa Indonesia, dengan adanya lembaga pendidikan ini dapat
mendorong kualitas sumber daya manusia. Sama halnya dengan beberapa lembaga
pendidikan lainnya, peta konsep merupakan pondasi utama dalam pelaksanaan
tujuan kelembagaan, maka susunan peta konsep tersebut dijadikan indicator
ketercapaian tujuan lembaga pendidikan.
Selasa, 01 Mei 2018
Inkubator Pendidikan dan Teknologi: Konsep Lembaga Pendidikan untuk Anak Berbakat
Pendidikan di Indonesia merupakan suatu pengaruh yang
besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menwujudkan
Indonesia yang lebih berkembang dalam sector pendidikan. Tingkat kemajuan dunia
pendidikan dapat dilihat dari berbagai aspek-aspek yakni tingkat kemampuan
pelajar dalam pencapaian indicator pendidikan serta memenuhi segala tentang
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sementara itu, komisi tentang pendidikan
Abad ke- 21 (Commission on Education for
the “21” Century) telah merekomendasi empat strategi dalam menyukseskan
pendidikan diantaranya learning to learn,
learning to be, learning to do, dan learning
to be together.
Lembaga pedidikan diartikan sebagai fasilitator serta
mempunyai wewenang dalam mengawasi jalannya proses pendidikan yang sering terdapat
permasalahan didalamnya yang kemudian diberikan suatu kebijakan yang tepat
dalam menanganinya. Inkubator pendidikan dan teknologi adalah suatu organisasi
yang memiliki kapabilitas untuk menampung dan meningkatkan kapasitas gift dan atau keterampilan yang dimilki oleh
peserta didik maupun maha peserta didik hasil binaan dari sekolah
maupun perguruan tinggi.
Secara umum inkubator dibentuk dengan tujuan yaitu: (1) Memerikan wadah kepada pelajar yang memiliki
suatu kapasitas dalam mengembangkan kemampuan
berdasarkan indilator yang telah dicanangkan pemerintah dan membentuk karakter kapada pelajar yang masuk
dalam kategori gifted children yang potensial untuk di ikutsertakan terhadap berbagai event-event tingkat nasional, sehingga mampu sukses
menghadapi persaingan global; (2) Menekankan kamampuan intelektual yang dimiliki
individu dengan memberikan suatu sarana maupun prasaran dalam pembentukan
konsep diri; (3) Pengembangan deklaratif dengan memberikan
media tepat guna terhadap kemampuan dan bakat yang dimiliki; (4) Peningkatan kegiatan yang menarik dengan
membuat kegiatan-kegiatan internal yang sesuai dengan standarlisasi strategi
pembelajaran; (5) Pemberdayaan sumber daya manusia dengan
memberikan ruang kepada individu untuk menyalurkan segala bentuk kreativitas
dalam bidang teknologi.
Berdasar pada 5 tujuan utama tersebut, maka hal diperlukan sebuah pematangan konsep kelembagaan yang memprioritaskan kemampuan peserta didik melalui inkubator pendidikan dan teknologi. Sistem kelembagaan pendidikan juga dapat dilihat pada strategi yang dipakai dalam merekrut dan atau pengkategorian anak berakat. Hal ini penting, sebab pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi output yang dilihat adalah kemampuan dalam meningkatkan daya pikir dan kreativitasnya.
Berdasar pada 5 tujuan utama tersebut, maka hal diperlukan sebuah pematangan konsep kelembagaan yang memprioritaskan kemampuan peserta didik melalui inkubator pendidikan dan teknologi. Sistem kelembagaan pendidikan juga dapat dilihat pada strategi yang dipakai dalam merekrut dan atau pengkategorian anak berakat. Hal ini penting, sebab pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi output yang dilihat adalah kemampuan dalam meningkatkan daya pikir dan kreativitasnya.




